Jumat, 06 September 2019

TAUSIYAH PAGI INI

Kajian Tentang Hadits Tentang Memaafkan dan Anjuran Memaafkan Orang Yang Menyakiti Kita

Memaafkan orang yang berbuat buruk, memaafkan orang yang menyakiti kita, orang yang tidak berbuat baik kepada kita, maka kita berusaha untuk memaafkan mereka. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu ia berkata:
يَا رَسُول اللَّه، إِنَّ لِي قَرابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُوني، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِم وَيُسِيئُونَ إِليَّ، وأَحْلُمُ عنهُمْ وَيَجْهَلُونَ علَيَّ، فَقَالَ: لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ المَلَّ، وَلا يَزَالُ معكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلكَ
“Wahai Rasulullah, sama memiliki kerabat, saya sambung tapi mereka malah meutuskan, mereka berbuat buruk kepada saya tapi saya berusaha untuk berbuat baik kepada mereka. Mereka berbuat jahil kepada saya tapi saya sabar tidak ingin membalas dengan yang sama. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘jika yang kamu katakan itu benar, maka seakan-akan kamu menaburkan debu panas ke wajahnya dan senantiasa Allah akan menolong kamu selama kamu terus berbuat seperti itu'” (HR. Muslim)
Kewajiban orang yang berakal adalah hendaknya ia menguatkan jiwanya untuk senantiasa memaafkan manusia. Dan tidak membalas keburukan dengan keburukan lagi.
Ini adalah merupakan sifat orang-orang yang berjiwa besar. Dan memang sangat sulit sekali karena ketika hati kita sakit, butuh waktu untuk memaafkan. Namun orang-orang yang berjiwa besar dan mengharapkan keridhaan Allah semata, dia melihat bahwa kalau dia maafkan, Allah maafkan dia. Dan maaf Allah itu lebih baik daripada kekecewaan hati, lebih baik daripada ingin memuaskan hati ketika hati kita kesal kepada dia.
Ini adalah orang-orang yang jauh yang berfikir kedepan dan betul-betul berharap keridhaan Allah dan ampunanNya. Maka orang seperti ini menunjukkan akan kebesaran jiwa dan kekuatan iman.
Karena tidak ada cara untuk memadamkan perbuatan buruk orang lain kepada kita kecuali dengan cara kita berbuat ihsan kepadanya. Sebab kalau ada orang misalnya berbuat buruk kepada kita kemudian kita membalas keburukan. Barangkali orang tersebut akan kembali membalasnya. Akhirnya kita sibuk untuk terus membalas keburukan dengan keburukan. Tapi ketika orang itu berbuat buruk kepada kita, lalu kita malah membalas dengan berbuat baik kepada dia, maka selesai semuanya.
Ketika ada orang misalnya mengejek kita dengan kata-kata yang tidak baik, lalu kemudian kita berbuat baik kepada dia dengan mendo’akan dia dengan kebaikan, maka itu Subhanallah menunjukkan akan kebesaran jiwa, kekuatan hati.
Dan tidak ada sesuatu yang bisa semakin membesarkan perbuatan buruk dari kita membalas dengan yang sama. Kalau ada orang mencaci kita lalu kita caci dia lagi dan sama-sama tersinggung, apa yang terjadi? Bertengkar. Walaupun memang dalam Islam mencaci seseorang dengan cacian yang sama dengan dia boleh-boleh saja. Allah mengatakan:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا
Balasan keburukan adalah keburukan yang sama.” (QS. Asy-Syura[42]: 40)
Cuma masalahnya untuk “sama” ini sulit sekali. Karena ketika kita menjawab dengan emosi dan kemarahan, seringnya kita lebih. Sehingga akhirnya kita yang dzalim. Misalnya ada orang berkata kepada kita, “bodoh kamu.” Kemudian kita jawab, “kamu juga.” ini boleh. Karena itu sama. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa orang-orang Yahudi mengucapkan:
السَّامُ عَلَيْكَ
“kematian atasmu”
Maka Rasulullah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:
وَعَلَيْكَ
“Dan atasmu” (HR. Bukhari)
Ini adalah jawaban yang sama. Namun ketika ‘Aisyah mendengar perkataan orang Yahudi itu ‘Aisyah marah dan emosi. Lalu ‘Aisyah berkata:
عَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ
“Semoga kalian celaka dan mendapatkan laknat” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegur ‘Aisyah agar tidak seperti itu. Karena yang diperbolehkan dalam Islam itu adalah membalas keburukan dengan keburukan yang sama. Adapun kemudian kita membalas dengan keburukan yang lebih, maka yang lebih besar dosanya kita. Karena Allah hanya membolehkan membalas keburukan dengan keburukan yang sama. Namun yang lebih utama adalah maafkan. Karena maafkan apalagi kalau disertai dengan berbuat ihsan kepada dia, membalas keburukan dengan kebaikan, sudahlah kita selamat dari menjawab sesuatu dengan kezaliman, juga akan semakin menghilangkan pertengkaran, bahkan terkadang menyebabkan orang yang memusuhi kita menjadi menyukai kita.
Tentunya tidak ada yang bisa melakukan itu kecuali orang-orang yang berjiwa besar, orang-orang yang mempunyai kekuatan iman dan taqwa, orang-orang yang pengharapan atas keridhaan Allah, yang betul-betul mengharapkan ampunan Allah dengan kuat.
Mansur bin Muhammad Al-Kuraizi berkata: “Aku akan paksakan sifat pemaaf pada diriku kepada orang-orang yang berbuat keburukan kepadaku walaupun keburukan mereka banyak kepadaku. Karena manusia itu tidak lebih dari tiga; orang yang mulia, orang yang tidak mulia, orang yang seimbang dengan kita. Adapun orang yang lebih mulia dariku maka aku mau mengakui keutamaan dia dan aku mengikuti kebenaran padanya. Karena kebenaran harus diikuti. Kalau ternyata orang itu lebih rendah kemuliaannya dariku dan ternyata ia berbuat buruk kepadaku maka aku sudah melindungi diriku dengan cara aku tidak menjawab dia. Kalau ternyata dia seimbang denganku lalu terpeleset didalam kesalahan, maka aku sudah berbuat kebaikan. Karena sifat halim merupakan sifat yang lebih bagi orang yang bijak.”
Saudaraku sekalian, memang Subhanallah sifat pemaaf ini bukankah sifat yang mudah walaupun memang mudah diucapkan. Apalagi kalau ternyata dia menyakiti hati kita. Karena kesakitan hati itu lebih berat daripada kesakitan badan. Kalau kita terkena pedang beberapa hari atau beberapa minggu sudah sembuh. Tapi kalau hati kita yang disakiti, mungkin bisa bertahun-tahun baru bisa sembuh. Kecuali orang-orang yang hatinya betul-betul jiwanya pemaaf, yang betul-betul mengharap keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Maka Subhanallah, ini adalah orang yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala taufik untuk mempunyai jiwa pemaaf. Karena sifat pemaaf itu mendatangkan maaf Allah kepada kita. Sebagaimana ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menegur Abu Bakar yang tidak mau memaafkan orang yang menuduh ‘Aisyah telah berzina. Dimana ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dituduh berzina dengan seorang Sahabat. Sehingga kemudian tuduhan itu tersebar menjadi isu yang hangat di kota Madinah. Lalu Allah turunkan ayat yang menyebutkan tentang bersihnya ‘Aisyah dari tuduhan tersebut. Dan ternyata diantara yang menuduh dan menyebarkan tuduhannya itu adalah seorang kerabat Abu Bakar yang miskin yang Abu Bakar selalu memberi makan kepada dia dan mencukupi kebutuhan dia sehari-hari.
Melihat ternyata saudaranya yang ikut menyebarkan tersebut, maka Abu Bakar bersumpah tidak akan pernah lagi memberikan kebaikan kepadanya. Maka Allah turunkan:
أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّـهُ لَكُمْ
Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? ” (QS. An-Nur[24]: 22)
Mendengar itu Abu Bakar berkata, “Iya, aku ridha Allah mengampuni dosaku.” Maka kemudian Abu Bakar memaafkan saudaranya kemudian kembali berbuat baik kepadanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar